Kisah Abu Nawas Mau Terbang

Alkisah sudah beredar berita jika Abu Nawas mau terbang. Berita itu secara cepat menggemparkan semua pelosok kota. Banyak yang mau tahu mengenai berita itu sampai mendatangi Abu Nawas langsung. Tetapi dengan enjoy Abu Nawas menjawab, "benar saudara-saudara, saya mau terbang," jawab Abu Nawas. 

Berita bila Abu Nawas mau terbang telah menebar dari perkotaan sampai perdesaan. Berita itu juga sampai ke telinga Baginda Harun Al Rasyid. Baginda demikian kaget serta dikit cemas karena berita itu telah membuat kehebohan di semua pelosok negeri. Banyak yang berkelahi serta berdebat mengenai kebenaran berita itu. Ada yang yakin, ada juga yang tidak yakin. Karena telah memunculkan keresahan, baginda Harun Al Rasyid memanggil Abu Nawas ke istana. 

Sesampainya di istana, langsung baginda menanyakan, "Abu Nawas, betulkah kamu mau terbang?" 

"Benar, baginda. Saya memang mau terbang," jawab Abu Nawas dengan santainya. 

"Dimana dan kapan?" sahut Baginda. 

"Hari Jumat mendatang ini, di menara Masjid Baitussalam, baginda," jawab Abu Nawas. 

"Baiklah Abu Nawas, karena berita ini telah membuat banyak perbincangan di kelompok penduduk, karena itu pengadilan penduduk akan akan memutus nasibmu jika berbohong. Sama dengan ketentuan di negeri ini, kamu akan memperoleh hukuman berat bila berbohong. Berbohong serta membohongi orang sama juga dengan menipu, sedang menipu dapat dijaring hukuman sangat berat, yaitu hukum gantung." 

Beberapa orang yang sudah mengetahui pemanggilan Abu Nawas di istana oleh Baginda Raja. Abu Nawas sudah memperoleh ancaman bila berbohong akan diberi hukuman gantung. Mereka tidak sabar menanti hari dimana Abu Nawas terbang. 

Hari Jumat juga datang. Penduduk telah bersama-sama penuhi halaman Masjid Baitussalam. Tidak jauh dari ajang itu, perlengkapan untuk melakukan hukuman gantung sudah disediakan jika nanti Abu Nawas berbohong. 

Tetapi beberapa orang yang telah menyesaki masjid terpana lihat Abu Nawas yang dengan santainya berjalan. Ia tiada ragu mengambil langkah menaiki menara masjid. Beberapa orang juga menanyakan, "benarkan Abu Nawas akan terbang?" Ada juga yang berkata, "Silahkan terbang Abu Nawas, jika kamu terbang juga bakal jatuh serta mati, tetapi jika kamu tidak terbang, kamu akan digantung." 

Situasi jadi tegang serta hening waktu Abu Nawas telah tiba di puncak menara masjid. Semua mata tertuju pada Abu Nawas, seakan mereka terasa akan melihat peristiwa yang mengagumkan. 

Sesaat diatas, Abu Nawas berdiri serta mulai berlaga. Ia mulai menggerak-gerakkan tangannya seakan akan terbang. Ia berkali-kali melebarkan tangannya serta mengibas-ngibaskan tangannya berkali-kali seperti burung. Ia lakukan itu berkali-kali sampai beberapa waktu berlalu, tetapi kenyataannya Abu Nawas tidak kunjung terbang. 

Di pelataran beberapa orang sama-sama menolehkan mukanya, jantung mereka makin berdegup kencang karena hakim telah siap-siap untuk akan memutus hukuman. Tetapi Abu Nawas justru dengan santainya turun dari menara. "Apa kalian barusan lihat jika saya mau terbang?" bertanya Abu Nawas pada hadirin setelah tiba dibawah. 

"Ya, kamu menggerak-gerakkan tanganmu seakan mau terbang," jawab beberapa orang. 

"Lantas apa saya berbohong jika saya mau terbang dari menara Masjid Baitussalam?" tanyanya lagi. 

Beberapa orang juga cuma menggeleng-gelengkan pada tanpa nada yang keluar. "Nah, bagaimana? Saya kan tidak katakan dapat terbang, tetapi saya mau terbang. Jadi saya mau terbang, tetapi tidak dapat terbang," jelas Abu Nawas. 

Beberapa orang juga mengerti jika berikut kecerdikan beberapa kata serta tingkah laku Abu Nawas. Ia dapat merubah suatu yang tidak mungkin jadi mungkin dengan triknya. Hakim juga terpana. Mereka kesusahan mencari masalah untuk menangkap Abu Nawas karena terasa ini hanya permainan kata serta penafsiran. 

"Hati-hatilah bila terima berita. Janganlah langsung ditelan, tetapi pikirkan dulu," kata Abu Nawas pada khalayak ramai. 

Sesampainya di istana, beberapa algojo bercerita apakah yang berlangsung hari itu pada baginda Raja Harun Al Rasyid. Bukannya geram atau sedih, baginda justru ketawa terbahak-bahak. "Telah ku duga, ini cuma ulahnya. Saya telah berkali-kali dibuatnya ketawa oleh kecerdikannya."

karya Aziz Mushoffa

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Abu Nawas Mau Terbang"

Post a Comment