Kisah Abu Nawas Mau Terbang

Kisah Abu Nawas Mau Terbang

Alkisah sudah beredar berita jika Abu Nawas mau terbang. Berita itu secara cepat menggemparkan semua pelosok kota. Banyak yang mau tahu mengenai berita itu sampai mendatangi Abu Nawas langsung. Tetapi dengan enjoy Abu Nawas menjawab, "benar saudara-saudara, saya mau terbang," jawab Abu Nawas. 

Berita bila Abu Nawas mau terbang telah menebar dari perkotaan sampai perdesaan. Berita itu juga sampai ke telinga Baginda Harun Al Rasyid. Baginda demikian kaget serta dikit cemas karena berita itu telah membuat kehebohan di semua pelosok negeri. Banyak yang berkelahi serta berdebat mengenai kebenaran berita itu. Ada yang yakin, ada juga yang tidak yakin. Karena telah memunculkan keresahan, baginda Harun Al Rasyid memanggil Abu Nawas ke istana. 

Sesampainya di istana, langsung baginda menanyakan, "Abu Nawas, betulkah kamu mau terbang?" 

"Benar, baginda. Saya memang mau terbang," jawab Abu Nawas dengan santainya. 

"Dimana dan kapan?" sahut Baginda. 

"Hari Jumat mendatang ini, di menara Masjid Baitussalam, baginda," jawab Abu Nawas. 

"Baiklah Abu Nawas, karena berita ini telah membuat banyak perbincangan di kelompok penduduk, karena itu pengadilan penduduk akan akan memutus nasibmu jika berbohong. Sama dengan ketentuan di negeri ini, kamu akan memperoleh hukuman berat bila berbohong. Berbohong serta membohongi orang sama juga dengan menipu, sedang menipu dapat dijaring hukuman sangat berat, yaitu hukum gantung." 

Beberapa orang yang sudah mengetahui pemanggilan Abu Nawas di istana oleh Baginda Raja. Abu Nawas sudah memperoleh ancaman bila berbohong akan diberi hukuman gantung. Mereka tidak sabar menanti hari dimana Abu Nawas terbang. 

Hari Jumat juga datang. Penduduk telah bersama-sama penuhi halaman Masjid Baitussalam. Tidak jauh dari ajang itu, perlengkapan untuk melakukan hukuman gantung sudah disediakan jika nanti Abu Nawas berbohong. 

Tetapi beberapa orang yang telah menyesaki masjid terpana lihat Abu Nawas yang dengan santainya berjalan. Ia tiada ragu mengambil langkah menaiki menara masjid. Beberapa orang juga menanyakan, "benarkan Abu Nawas akan terbang?" Ada juga yang berkata, "Silahkan terbang Abu Nawas, jika kamu terbang juga bakal jatuh serta mati, tetapi jika kamu tidak terbang, kamu akan digantung." 

Situasi jadi tegang serta hening waktu Abu Nawas telah tiba di puncak menara masjid. Semua mata tertuju pada Abu Nawas, seakan mereka terasa akan melihat peristiwa yang mengagumkan. 

Sesaat diatas, Abu Nawas berdiri serta mulai berlaga. Ia mulai menggerak-gerakkan tangannya seakan akan terbang. Ia berkali-kali melebarkan tangannya serta mengibas-ngibaskan tangannya berkali-kali seperti burung. Ia lakukan itu berkali-kali sampai beberapa waktu berlalu, tetapi kenyataannya Abu Nawas tidak kunjung terbang. 

Di pelataran beberapa orang sama-sama menolehkan mukanya, jantung mereka makin berdegup kencang karena hakim telah siap-siap untuk akan memutus hukuman. Tetapi Abu Nawas justru dengan santainya turun dari menara. "Apa kalian barusan lihat jika saya mau terbang?" bertanya Abu Nawas pada hadirin setelah tiba dibawah. 

"Ya, kamu menggerak-gerakkan tanganmu seakan mau terbang," jawab beberapa orang. 

"Lantas apa saya berbohong jika saya mau terbang dari menara Masjid Baitussalam?" tanyanya lagi. 

Beberapa orang juga cuma menggeleng-gelengkan pada tanpa nada yang keluar. "Nah, bagaimana? Saya kan tidak katakan dapat terbang, tetapi saya mau terbang. Jadi saya mau terbang, tetapi tidak dapat terbang," jelas Abu Nawas. 

Beberapa orang juga mengerti jika berikut kecerdikan beberapa kata serta tingkah laku Abu Nawas. Ia dapat merubah suatu yang tidak mungkin jadi mungkin dengan triknya. Hakim juga terpana. Mereka kesusahan mencari masalah untuk menangkap Abu Nawas karena terasa ini hanya permainan kata serta penafsiran. 

"Hati-hatilah bila terima berita. Janganlah langsung ditelan, tetapi pikirkan dulu," kata Abu Nawas pada khalayak ramai. 

Sesampainya di istana, beberapa algojo bercerita apakah yang berlangsung hari itu pada baginda Raja Harun Al Rasyid. Bukannya geram atau sedih, baginda justru ketawa terbahak-bahak. "Telah ku duga, ini cuma ulahnya. Saya telah berkali-kali dibuatnya ketawa oleh kecerdikannya."

karya Aziz Mushoffa

Read More
Abu Nawas Berhasil Menangkap Angin

Abu Nawas Berhasil Menangkap Angin

Abu Nawas kaget bukan main saat seseorang utusan Baginda Raja hadir ke tempat tinggalnya. Ia mesti menghadap Baginda secepat-cepatnya. Tidak tahu permainan apalagi yang akan dihadapi kesempatan ini. Pikiran Abu Nawas berloncatan kesana kemari. Sesudah datang di istana, Baginda Raja menyongsong Abu Nawas dengan suatu senyuman. 

"Belakangan ini saya seringkali mendapatkan masalah perut. Kata tabib pribadiku, saya terkena serangan angin." kata Baginda Raja mengawali perbincangan. 

"Ampun Tuanku, apakah yang dapat hamba kerjakan sampai hamba di panggil." bertanya Abu Nawas. 

"Saya cuma inginkan engkau tangkap angin serta memenjarakannya." kata Baginda. Abu Nawas cuma diam. Tidak sepatah kata juga keluar dari mulutnya. Ia tidak pikirkan bagaimanakah cara tangkap angin kelak, tapi ia bingung bagaimanakah cara menunjukkan dan buktikan jika yang ditangkap itu memang sungguh angin. Bukankah angina tidak telihat???

Tidak ada benda yang lebih aneh dari angin. Tidak seperti air meskipun tidak berwarna tapi masih tetap dapat dilihat. Sedang angin tidak. Baginda cuma memberikan Abu Nawas waktu tidak lebih dari tiga hari. Abu Nawas pulang membawa pekerjaan rumah dari Baginda Raja. Akan tetapi Abu Nawas tidak pernah kehabisan akal. Ia meyakini jika dengan berfikir akan terbentang jalan keluar dari kesusahan yang tengah dilandanya kini. Serta dengan berfikir juga ia meyakini dapat memberikan sesuatu pada orang yang lain yang memerlukan khususnya bagi orang miskin. Karena sering Abu Nawas menggondol sepundi penuh uang emas hadiah dari Baginda Raja atas kecerdikannya.  Dan kemudian memberikannya kepada para pakir miskin.

Tapi telah dua hari ini Abu Nawas belum mendapatkan akal untuk menangkap angin ditambah lagi memenjarakannya. Sedang besok ialah hari paling akhir yang sudah diputuskan Baginda Raja. Abu Nawas hampir putus harapan. Abu Nawas benar - benar tidak dapat tidur walaupun cuma sesaat. Mungkin telah takdir; sepertinya kesempatan ini Abu Nawas mesti melakukan hukuman karena tidak berhasil melakukan perintah Baginda, Ia berjalan gontai menuju istana. Di sela-sela kepasrahannya pada takdir ia tiba- tiba terpikir sesuatu ide cemerlang dan mendapatkan jalan keluarnya..!!  

ia berjingkrak girang serta selekasnya lari pulang. Sesampai didalam rumah ia secepat-cepatnya mempersiapkan semua sesuatunya yaitu sebuah botol dari batang bambu yang dikasih lobang kemudian dia kentuti didalam botol bambu  itu dan segera ditutupnya, setelah itu dia manuju istana. 

Di pintu gerbang istana Abu Nawas langsung dipersilahkan masuk oleh beberapa pengawal karena Baginda tengah menanti hadirnya. Dengan tidak sabar Baginda langsung menanyakan pada Abu Nawas. 

"Sudahkah engkau sukses menangkap dan memenjarakan angin, hai Abu Nawas? " 

"sudah Paduka yang mulia." jawab Abu Nawas dengan muka berseri-seri sekalian keluarkan botol bambu yang telah disumbat. Lalu Abu Nawas menyerahkan botol bambu itu. Baginda menimbang-nimang batol itu. 

"Manakah angin itu, hai Abu Nawas?" bertanya Baginda. Didalam, Tuanku yang mulia." jawab Abu Nawas penuh yakin. "Saya tidak lihat apa-apa." kata Baginda Raja. 

"Ampun Tuanku, memang angin tidak dapat disaksikan, tapi jika Paduka ingin tahu angin, tutup botol bambu itu mesti di buka terlebih dulu." kata Abu Nawas menuturkan. Sesudah tutup botol di buka. Baginda mencium bau busuk. Berbau kentut yang demikian menusuk hidung.

"Berbau apakah ini, hai Abu Nawas?" bertanya Baginda geram. "Ampun Tuanku yang mulia, tedi hamba buang angin serta hamba. masukan ke botol. Karena hamba takut angin yang hamba buang itu keluar karena itu hamba menangkapnya dan memenjarakannya lewat cara menyumbat mulut botol itu." kata Abu Nawas sambil ketakutan. 

Tapi Baginda tidak menjadi geram karena keterangan Abu Nawas memang dapat diterima akal. "Hehehe kau memang pandai Abu Nawas." 

Tetapi... janganlah keburu ketawa dahulu, dengar dahulu apakah kata Abu Nawas kepada baginda raja. 

"Baginda...!" 

"Ya Abu Nawas!" 

"Hamba sebetulnya sangat pusing pikirkan cara melakukan pekerjaan menangkap dan memenjarakan angin ini." 

"Lantas apakah maksudmu Abu Nawas?" 

"Hamba. mohon ganti rugi karena sudah 3 hari ini saya tidak bisa tidur memikirkan caranya." 

"Kau hendah memeras seseorang Raja?" 

"Oh, bukan demikian Baginda." 

"Lantas apakah maumu?" 

"Baginda mesti memberikan saya hadiah berbentuk uang.

  "Jika tidak?" tantang Baginda. 

"Jika tidak... hamba akan bercerita pada khalayak ramai jika Baginda sudah mencium kentut hamba!" 

"Hah?" Baginda kaget serta kesal tetapi lalu ketawa terbahak-bahak mendengar jawaban konyol Abu Nawas tersebut. "Baik permintaanmu kukabulkan!" 

Setelah menerima uang hadiah dari Raja maka uang itu dia bagikan kepada para Pakir Miskin.

Read More
Kisah Abu Nawas Permalukan Raja

Kisah Abu Nawas Permalukan Raja

Suatu hari Raja Harun Ar-Rasyid tengah penasaran dengan sikap Abu Nawas. Seringkali Abu Nawas sudah membuatnya malu di muka beberapa petinggi kerajaan. Berlatar belakang dendam  akhirnya Raja akan berniat membuat perangkap pada Abu Nawas. Bila Abu Nawas tidak berhasil dengan tantangan kali ini, maka hukuman akan dikasihkan padanya. 

Karena itu dipanggillah Abu Nawas untuk menghadap Raja Harun Ar-Rasyid. Setiba Abu Nawas di istana kerajaan. Sang raja lantas mengawali pertanyaannya, 

"Wahai Abu Nawas, di mejaku itu ada sepanggang daging ayam yang lezat serta enak untuk dilahap, tolong selekasnya ambilkan dan bawa kesini." 

Abu Nawas terlihat bingung dengan perintah itu, karena tidak biasanya dia diminta mengambilkan makanan raja. 
"Mungkin saja raja ingin menjebakku, saya mesti siaga," kata Abu Nawas dalam hati. 

Mendapatkan perintah yang dirasa Aneh 

Abu Nawas akhirnya menuruti perintah itu. Sesudah ambil ayam panggang sang raja, Abu Nawas lalu memberinya pada raja. Akan tetapi, sang raja tdk langsung menerimanya, ia menanyakan lagi, 
"Abu Nawas, di tangan kamu ada sepotong ayam panggang lezat, silakan di nikmati." 

Ketika pada saat Abu Nawas akan memakan ayam panggang itu, tidak diduga raja berkata lagi, 
"Tetapi ingat Abu Nawas, dengarkan dahulu petunjuknya. Bila kamu memotong paha ayam itu, karena itu saya akan memotong pahamu apabila kamu memotong dada ayam itu, karena itu saya akan memotong dadamu. Bukan sekedar itu saja, bila kamu memotong serta mengonsumsi kepala ayam itu, karena itu saya akan memotong kepalamu. Namun jika kamu cuma mendiamkan saja ayam panggang itu, maka kamu akan saya gantung." 

Abu Nawas merasa bingung dengan perkataan yang dititahkan rajanya itu. Dalam kebingungannya, ia makin meyakini bila hal tersebut cuma akal-akalan Raja Harun saja agar bisa menghukumnya. Bukan sekedar ABu Nawas saja yang tegang, tetapi juga semua petinggi kerajaan yang ada di istana terlihat tegang juga. Mereka cuma dapat menebak dalam hati mengenai arti dari perintah rajanya itu. 

Hampir sepuluh menit lamanya Abu Nawas cuma membolak-balikkan ayam panggang itu. Sesaat situasi jadi hening. Lalu Abu Nawas mulai mendekatkan ayam panggang itu dimulutnya..

Beberapa hadirin yang hadir atas undangan raja mulai bingung serta tidak memahami apakah yang dikerjakan Abu Nawas. Lalu tampak Abu Nawas mendekatkan hidungnya pas dibagian p^ntat daging ayam bakar yang terlihat begitu lezat itu. Kemudian ia mencium sisi panta ayam bakar itu. 

Raja pun Terkejut dengan tingkah Abu Nawas itu,

Sesudah tuntas mencium p^ntat ayam bakar itu, lalu Abu Nawas berkata, 
"Bila saya memotong paha ayam ini, karena itu Baginda akan memotong pahaku, bila saya  memotong dada ayam ini, karena itu Baginda akan memotong dadaku, bila saya  mengonsumsi serta memotong kepala ayam ini, Baginda akan memotong kepalaku, tapi coba lihat, yang saya kerjakan adalah mencium pantat ayam ini," kata Abu Nawas. 

"Apakah maksudmu, wahai Abu Nawas," bertanya Baginda. 
"Tujuan saya adalah jika saya lakukan demikian karena itu Baginda akan membalasnya demikian, seperti ayam ini. Nah, saya cuma mencium p^ntat ayam panggang ini saja, karena itu Baginda harus melakukan kepada saya apa yang telah saya lakukan terhadap ayam panggang itu," jelas Abu Nawas. 

Langsung saja keterangan Abu Nawas itu membuat situasi yang tegang jadi terlihat tidak menentu. Beberapa petinggi yang ada meredam tawa, tapi ragu-ragu karena takut diberi hukuman raja. Selain itu, raja yang dengar perkataan Abu Nawas mulai memerah mukanya. Raja terlihat malu untuk kesekian kalinya. Untuk menutupi perasaan malunya itu, beliau memerintah Abu Nawas untuk pulang serta membawa pergi ayam panggang yang lezat itu. 

"Wahai Abu Nawas, cepat pulanglah, jangan pernah saya beralih pikiran," kata raja. 

Setibanya didalam rumah, ia mengundang beberapa tetangganya untuk berpesta ayam panggang. Untuk kesekian kalinya Abu Nawas sukses membuat malu Raja Harun Ar-Rasyid di muka beberapa petinggi kerajaan.


Read More
Kisah Abu Nawas Mengalahkan Gajah

Kisah Abu Nawas Mengalahkan Gajah

Berikut adalah cerita Abu Nawas yang mengikuti sayembara untuk mengalahkan gajah cukup dengan tangan kosong. Atas usaha dan cerdikanya itu, Abunawas memperoleh hadiah berbentuk uang yang berlimpah.

Pada suatu  hari Abu Nawas tengah berjalan-jalan, bersantai nikmati keindahan alam. Di dalam perjalanan, ia kaget karena lihat beberapa orang bergerombol. Ia pun menhampiri kerumunan orang itu serta menanyakan pada salah seseorang masyarakat. Perasaan ingin tahu, ada apakah kiranya sangkanya dengan kerumunan itu.

" Ada kerumunan apakah disana itu? " bertanya Abu Nawas pada salah seseorang masyarakat.
" Ada pertunjukan keliling yang menyertakan seekor gajah yang ajaib, " jawab orang itu.
" Apakah maksudmu dengan gajah ajaib itu? " bertanya Abu Nawas ingin tahu.
" Gajah itu cuma tunduk pada tuannya saja, serta lebih mengagumkan lagi, gajah itu memahami bahasa manusia, " jelas orang itu.

Keterangan itu sudah membuat Abu Nawas makin tertarik serta ingin tahu. Ia tidak tahan untuk melihat keajaiban hewan raksasa itu.

Selang beberapa waktu, Abu Nawas telah ada di dalam kerumunan masyarakat. Ada banyak orang bergerombol tertarik melihat pertunjukan itu , hingga membuat sang pemilik gajah dengan perasaan bangga tawarkan hadiah yang lumayan besar buat siapapun yang dapat membuat gajahnya mengangguk-angguk.

Beberapa warga yang kepingin turut juga maju satu-satu untuk coba peruntungannya. Mereka berupaya dengan segala cara untuk bikin gajah itu mengangguk-angguk, akan tetapi belumlah ada seseorang juga yang menang.

Melihat gajah yang tidak mau mengangguk itu, Abu Nawas makin ingin tahu. Dia pada akhirnya mendaftarkan untuk ikuti sayembara itu.

Sekarang giliran Abu Nawas yang maju melawan gajah ajaib itu. Pas di muka gajah itu, Abu Nawas menanyakan,
" Tahukah kamu, siapakah saya ini? "
Si gajah itu lansung menggeleng-gelengkan kepalanya.

" Apa kamu tidak takut kepadaku? " bertanya Abu Nawas lagi.
Akan tetapi gajah itu masih menggeleng-gelengkan kepalanya.

" Apa kamu takut pada tuanmu? " bertanya Abu Nawas lagi memancing.
Gajah itu mulai ragu, dia cuma diam saja.
" Jika kamu tetap harus diam, baik, akan saya laporkan pada tuanmu, " ancam Abu Nawas.
Gajah masih menggeleng-gelengkan kepalanya.

" Oke, saya berikan petanyaannya lagi, apa kamu takut pada tuanmu? " bertanya Abu Nawas lagi.
Pada akhirnya gajah ajaib itu mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali. semua pemirsa pun bersorak sorai lihat peristiwa ini.

Atas kesuksesan Abu Nawas yang membuat gajah itu mengangguk-angguk, karena itu dia memperoleh hadiah berbentuk uang segebok.

Demikian cerita gajah ajaib itu yang akhirnya menyerah kalah dengan kecerdikan si Abu Nawas.


Read More
Kisah Abu Nawas Taruhan Paling Berbahaya

Kisah Abu Nawas Taruhan Paling Berbahaya

Pada suatu sore hari saat Abu Nawas ke warung ingin minum teh, kawan-kawannya telah ada disana. Mereka memang menyengaja tengah menanti Abu Nawas. 

" Nah ini Abu Nawas hadir. " kata salah seseorang dari mereka. 

" Ada apakah? " kata Abu Nawas sekalian pesan secangkir teh hangat. 

" Kami tau engkau tetap dapat melepas diri dari perangkap-perangkap yang didesain Baginda Raja Harun Al Rasyid. Tapi kami meyakini pada kesempatan ini engkau tentu diberi hukuman Baginda Raja jika engkau berani melakukannya. " kawan-kawan Abu Nawas buka pembicaraan. 

" Apakah yang perlu kutakutkan. Tidak ada suatu apa pun yang perlu ditakuti terkecuali pada Allah Swt. " kata Abu Nawas menentang. 

" Sampai kini tidak pernah ada seseorang pun di negeri ini yang berani memantati Baginda Raja Harun Al Rasyid. Tidakkah demikian hai Abu Nawas? " bertanya kawan Abu Nawas. 

" Tentunya tidak ada yang berani lakukan hal tersebut karenanya merupakan pelecehan yang sangat berat hukumannya , pasti orang yang melakukan itu akan dipancung. " kata Abu Nawas memberi tahu. 

" Itu yang ingin kami tau darimu. Beranikah engkau melakukannya?!! " 

" Sudah kukatakan jika saya cuma takut pada Allah Swt saja. Saat ini apakah imbalannya jika saya bersedia melakukannya? " Abu Nawas menanyakan. 

" Seratus keping uang emas. Selain itu Baginda juga harus ketawa ketika engkau pantati. " kata mereka. Abu Nawas pulang sesudah menyanggupi tawaran yang sangat beresiko itu. 

Kawan-kawan Abu Nawas tidak meyakini Abu Nawas mampu membuat Baginda Raja ketawa ditambah lagi saat dipantati. Sepertinya kesempatan ini Abu Nawas pasti akan bertemu dengan algojo pemenggal kepala.

Minggu depan Baginda Raja Harun Al Rasyid akan membuat jamuan kenegaraan. Beberapa menteri, pegawai istana serta beberapa orang dekat Baginda diundang, termasuk juga Abu Nawas. Abu Nawas merasakan hari-hari berlalu secara cepat karena ia mesti membuat jalan keluar yang sangat aman buat keselamatan lehernya dari pedang algojo. Tapi buat kawan-kawan Abu Nawas hari-hari merasa sangat panjang. Karena mereka tidak sabar menanti pertaruhan yang sangat mendebarkan itu. 

Persiapan-persiapan di halaman istana telah dimulai. Baginda Raja inginkan perjamuan kelak meriah karena Baginda juga mengundang raja-raja dari negeri tetangganya. 

Saat hari yang dijanjikan datang, semua tamu telah hadir terkecuali Abu Nawas. Kawan-kawan Abu Nawas yang melihat dari jauh terasa kecewa karena Abu Nawas tidak ada. Akan tetapi temyata mereka salah. Abu Nawas bukannya tidak hadir tapi terlambat kemudian Abu Nawas duduk ditempat paling belakang. 

Ceramah-ceramah yang mengesankan mulai terdengar oleh beberapa pakar pidato. Serta tibalah giliran Baginda Raja Harun Al Rasyid mengemukakan pidatonya. Selesai mengemukakan pidato Baginda lihat Abu Nawas duduk sendirian ditempat yang tidak ada karpetnya. Karena terasa heran Baginda menanyakan, " Kenapa engkau tidak duduk diatas karpet? " 

" Paduka yang mulia, hamba haturkan terima kasih atas perhatian Baginda. Hamba telah merasa cukuplah bahagia duduk disini. " kata Abu Nawas. 

" Wahai Abu Nawas, majulah serta duduklah diatas karpet nanti pakaianmu kotor karena duduk diatas tanah. " Baginda Raja menyarankan. 

" Ampun Tuanku yang mulia, sebetulnya hamba ini telah duduk diatas karpet. " 

Baginda bingung dengar pernyataan Abu Nawas. Karena Baginda lihat sendiri Abu Nawas duduk diatas lantai. " Karpet yang manakah yang engkau maksudkan wahai Abu Nawas? " bertanya Baginda sambil bingung. 

" Karpet hamba sendiri Tuanku yang mulia. Saat ini hamba membawa karpet ke mana saja hamba pergi. " Kata Abu Nawas seakan-akan menjadi tanda tanya Baginda Raja. 

" Tapi semenjak tadi saya belumlah lihat karpet yang engkau bawa . " kata Baginda Raja makin bertambah bingung. 

" Baiklah Baginda yang mulia, jika memang ingin tahu karena itu dengan senang hati hamba akan tunjukkan pada Paduka yang mulia. " kata Abu Nawas sekalian beringsut-ringsut ke depan. Sesudah cukup dekat dengan Baginda, Abu Nawas berdiri lalu menungging tunjukkan potongan karpet yang ditempelkan dibagian pantatnya. Abu Nawas sekarang seakan-akan memantati Baginda Raja Harun Al Rasyid. Melihat ada sepotong karpet melekat di pantat Abu Nawas, Baginda Raja tidak dapat membendung tawa hingga beliau terpingkal-pingkal dibarengi oleh beberapa undangan lainnya.

Melihat peristiwa yang tidak disangka-sangka itu kawan-kawan Abu Nawas merasa takjub. 

Mereka mesti ikhlas melepas seratus keping uang emas untuk Abu Nawas.


Read More
Kumpulan Kisah Kocak D3wasa Terbaru

Kumpulan Kisah Kocak D3wasa Terbaru

Berikut adalah kumpulan Kisah Kocak d3wasa pendek terbaru yang saya kumpulkan dari berbagai sumber lucu, yang pastinya membuat kita ngakak dan terhibur dengan kelucuan dan kekocakannya. Selamat membaca cerita pendek lucu dan kocak dewasa dibawah ini dan semoga terhibur.

Ingin Dada Bes^r 

Disebuah supermarket tengah mengobral dada ayam tanpa tulang. Bejo beniat untuk membelinya untuk persediaan di rumah. Saat telah tiba supermarket, Bejo sedih dan kecewa karena cuma temukan beberapa potong daging kecil, hingga dia komplain dengan gadis pelayan di counter daging supermarket itu.

“Jangan cemas, ” kata gadis itu, “Saya akan ke belakang dan akan membungkus beberapa potong kemudian pastikan daging itu siap sebelum anda selesai berbelanja disini. ”

Tidak beberapa lama, si Bejo mukanya  langsung merah padam serta salah tingkah saat mendengar gadis pelayan toko barusan menginformasikan melalui pengeras suara di supermarket,

“Mohon pada mas yang tadi menginginkan dada yang besar untuk menemui saya diruang belakang toko…!!


Gaya Yang Cocok Untuk Si Kakek

Seseorang kakek berumur 70 tahun pergi ke dokter, " Maaf, dok, gaya apakah yang aman kalau saya ingin bercinta? Kan tulang saya tidak sekuat dahulu lagi... "

" gaya yang sangat pas buat kakek adalah d0ggy style. "

" Apakah maksud dokter m3nungging?? "

" Bukan, tetapi cukup mengendus-endus saja... " jawab dokter tenang.


Belasungkawa sedalam-dalamnya 

Tiga bulan sesudah suaminya wafat, Ningsih dijodohkan oleh orang tuanya dengan si Parman, duda kampung sebelah. Walau sebenarnya masih dalam keadaan berduka, Ningsih pada akhirnya sepakat kumpul tidur dengan Parman.

Malam pertama mereka, Ningsih menanti ditempat tidur, selimutan. Sewaktu Parman buka selimut dia lihat Ningsih tanpa baju, tanpa bra, tetapi kenakan CD warna hitam. Ningsih mengatakan,

“Mas Parman.. bibirku.. tubuhku.. dadaku.. milikmu saat ini.. tapi… maaf mas.. yang kenakan pakaian hitam di bawah ini.. dia masih dalam keadaan berduka cita.. ”

Si Parman pun mikir sesaat, trus dia katakan.. “Nggak pa-pa say.. tunggu sebentar yaa... ”

Si Parman masuk ke kamar mandi. Balik dari kamar mandi, dia telah bugil serta cuma kenakan kondom berwarna hitam sambil nyengir Parman pun mengatakan,

“Say.. yang kenakan pakaian hitam dibawah ini.. dia ingin menyampaikan belasungkawa sedalam-dalam-nya..!!

Wanita Gunakan Vibrator

Seseorang wanita menelpon dokternya, serta memohon untuk kunjungan " darurat ". Resepsionis katakan silakan datang. Si wanita cepat-cepat datang serta secara langsung masuk ke ruangan check. Sang dokter masuk serta bertanya apakah permasalahannya. Si wanita tampak malu serta memohon agar dokter mengecek sendiri apakah permasalahannya. Sang dokter menuruit, serta mulai lakukan kontrol keseluruhan badannya.

Sesudah mengerjakannya lumayan lama, sang dokter mengangkat kepala serta berkata, " Maaf, Bu. Mengingat letak serta dalamnya vibrator itu masuk, perlu operasi yang rumit, rawan serta cukup mahal biayanya untuk mengeluarkannya ".

Dengan muka agak murung si wanita berkata, " Wah... saya lagi tidak memiliki uang Dok. Tetapi mumpung saya lagi ada disini, apakah Dokter dapat mengganti saja baterainya?? "


Read More
Kumpulan Kisah Lucu Dewasa Paling Ngakak Terbaru

Kumpulan Kisah Lucu Dewasa Paling Ngakak Terbaru

Suster Dip3rkos^ Delapan Orang 

Seseorang suster melapor pada petugas keamanan jika dia baru saja sudah dip3rkos^ oleh delapan pasien, dan ia juga menceritakan ketika itu ia jatuh tidak sadarkan diri di kamar mandi.

Petugas keamanan itu bertanya kepada Suster tersebut " bagaimana Anda dapat tahu bahwa yang memp3rkos^ Anda berjumlah delapan orang pasien, sedang saat itu Anda dalam kondisi tidak sadarkan diri? "

" Gini lho Pak...Waktu Yang terakhir melakukan saya sadar Pak. dan saya merasakan klim^ks. karena kalau belum delapan kali biasanya saya belum sampai klim^ks, Pak. "
Pemicu Masalah S3ksu^l 

Dr. Boykeke kehadiran seseorang pasien, seseorang pria yang alami masalah s3ksu^l serius. Dia menuturkan jika akhir-akhir ini kej^ntanannya susah sekali b3rdiri, membuatnya alami krisis kepercayaan diri.

Dr. Boykeke membuat rangkaian pemeriksaan dan kontrol akan tetapi tidak ditemukan apakah pemicu permasalahan itu. Lantas dia terpikir sesuatu kemudian menanyakan pada si pria tersebut..

" Apa ketika b3rcint^ anda  memandang muka istri Anda? "

" Tidak Dok, tidak pernah sama sekali ", jawab si pria.

" Lantas apa belakangan ini anda pernah  memandangi muka istri anda saat tengah b3rcint^? "

" Iya benar Dok! Dua bulan yang lalu saya sempat melihat mukanya saat tengah b3rcint^ "

" Hmmm... hmmmm... Kelihatannya kita temukan titik jelasnya. Bisa anda terangkan saat dalam keadaan apakah anda melihat muka istri Anda? "

" Saat itu saya tengah b3rcint^ dengan gaya d0gy style Dok, lantas tidak diduga saya lihat muka istri saya diluar jendela kamar!! "


Menggunakan Petasan Jumbo

Dua orang w^nita p3njaja cinta, Susi serta Ningsih tengah berkompetisi untuk  berlomba menarik banyak pelanggan. Akan tetapi si Ningsih  bernasib sial walau sebenarnya dia tidaklah terlalu jelek amat. Dengan putus harapan ia kunjungi temannya tersebut si Susi.

" Eh Sus, apa aja sich rahasianya, kok sampeyan laku laris manis? ", bertanya si Ningsih...

Susi yang merasa menang pada akhirnya tidak tega melihat temannya. Dibisikkannyalah ke telinga Ningsih, " Rahasianya adalah petasan cabe rawit !".

Ningsih keheranan, " Lha Bagaimanasih  triknya? ", tanyanya ingin tahu.

" Waktu kamu b3gitu^n, nyalain saja petasannya... kan meledak. Kalaupun tamunya bertanya, jawab saja  " P3raw^n saya p3cah Mas... ", jelas Susi pada Ningsih...

Esoknya, Ide itu dicoba oleh Ningsih. Saat ada seseorang hidung bel^ng tengah berlaga dir^njangnya, ia nyalakan petasannya, Duarrr!!!!

" Apaan tuch??!! ", bertanya tamunya.

" P3raw^n saya pecah, Mas.. ", kata Ningsih...

" oooh Jadi kamu masih tetap p3raw^n ya??!!! ", bertanya si tamu senang dan girang karena merasa dapat p3raw^n.

Singkat kata, berita itu sampai ketangan hidung bel^ng yang lain kemudian akhirnya memang tamu si Ningsih makin bertambah banyak saja. Tapi dasar si Ningsih serakah, Ia kemudian berfikir bagaimana triknya supaya semakin banyak lagi.

" Pake Petasan Cabe Rawit yang kecil saja dampaknya seperti ini, apalagi  kalo pake petasan jumbo, tentu semakin banyak lagi tamuku nantinya... saya coba ah.. " fikir Ningsih.

Waktu itu seseorang lelaki gendut masuk ke kam^r, bersama an dengan Ningsih yang sudah mempersiapkan petasan jumbonya. Waktu berlaga diranj^ng, maka dinyalakanlah petasan Jumbonya, " DDUUAAARRR!!!!!!!!!! ".

" Apaan tuch? ", bertanya si tamu kaget sekali...

" P3raw^n saya pec^h, Mas... " kata Ningsih mengharap tamunya senang dan gembira...

" Pecah sich pecah... ini biji sy kemana nih.....!!!??? #$#@#$@#$^%!! "


Nostalgia Kakek Dan Nenek 

Sepasang manula tengah dalam perjalanan nostalgia kembali mengenang masa lalu, lantas mereka kemudian berkunjung ke tempat pertama-tama mereka berjumpa dahulu. Pasangan manula itu Masuk ke suatu kafe, sang kakek berkata pada pasangannya, sang nenek.

" Masih ingat ngga saat kita berjumpa pertama-tama 50 tahun lalu? Kita pergi dari kafe ini, jalan dari sini menuju pojokan sana di belakang pom bensin, ketika di pagar itu kita bercinta dengan D0gy styl3 dari bel^kang?? "

" Oh waktu Itu!, tentu saja sayang " Jawab sang nenek dengan senyum spesial.

" Jika begitu, untuk mengenang masa lalu, bagaimana jika kita balik lagi kesana serta melakukannya lagi seperti dulu, tentunya dari gaya belakang "

Ke-2 manula itu pada akhirnya pergi dari kafe sesudah membayar.

Ternyata ada Seseorang anak muda  diam2  menguping pembicaraan ke-2 manula itu, Anak muda itu tersenyum sendiri berfikir tentu asik lihat sepasang manula b3rcint^ ditempat terbuka. hihihi...

Dia bangkit dari tempat duduknya serta ikuti pasangan manula itu diam-diam... Benar saja, dia lihat ke-2 manula itu berada di belakang pom bensin. Sang nenek turunkan c3lana dal^mnya serta mengangkat r0knya, sesaat sang kakek melep^s c3lana panjangnya kmudian m3m3luk p/nggul sang nenek dari belak^ng.
Sang nenek lantas ambil p0sisi dengan berpegangan pada pagar besi di depannya.

Kemudian adegan selanjutnya adalah apa yang pantas disebut adegan s3ks berdurasi 40 menit yang begitu atletis yang tidak pernah di saksikan anak muda itu sebelumnya.

Sang kakek melakukannya pada sang nenek dalam pergerakan yang betul-betul fantastis ,mengagumkan dan fenomenal. Pagar itu bergoncang dan bergetar hebat, semua pergerakan seakan - akan kabur karena sangat cepatnya. Mereka melakukannya tanpa berhenti sedikitpun sampai selanjutnya mereka jatuh ke tanah serta tidak bergerak lagi sedikitpun begitu lama.

Sang anak muda demikian kagum serta terpesona akan apa yang dilihatnya. Selama hidupnya dia tidak pernah melihat hal hebat yang bisa disamakan dengan adegan ini - tidak juga di film, dengar dari cerita teman, juga dari pengalamannya sendiri. Berdasarkan pada barusan dilihatnya, sang pemuda lantas berpikir..

" Waah Gue mesti tahu rahasianya nih. Seorang kakek dapat b3rcint^ sehebat itu, ditambah lagi gue yang masih muda gini, kalau gue tahu rahasianya pasti hebat nih".  pikir pemuda itu.

Ke-2 manula itu pada akhirnya bisa menguasai diri mereka serta bangkit kenakan pakaiannya kembali.

Dengan membulatkan tekad sang anak muda mendekati mereka serta berkata..
" Kek, selama hidup saya belum pernah sempat lihat bisa b3rcint^ sehebat itu, terutamanya kalau dilihat dari umur kakek yang sudah tua , Kalau boleh tau apakah sih rahasianya Kek..?  Tentunya 50 tahun yang lalu kakek pasti lebih hebat lagi dong?? "

Walau dalam kondisi masih lemah, sang kakek lantas menjawab,
" Nak.. 50 tahun  yang lalu, pagar sialan itu belum dialiri listrik..!! "


Read More